Selasa, 26 Juni 2012

Model Pembelajaran


Pertanyaan
1.      Jelaskan minimal 8 keterampilan dasar mengajar secara konsep maupun aplikatif.
2.      Jelaskan model pembelajaran apa (dapat lebih dari satu) yang dapat membentuk kemampuan siswa dikaji dari 1) konsep, 2) karakteristik, 3) filsafatnya, 4) tingkat (usia) berapa tahun sebaiknya siswa menguasai kemampuan tersebut.
3.      Model pembelajaran CTL merupakan bagian dari model pembelajaran yang harus diimplementasikan dalam pendekatan KTSP, coba saudara jelaskan 1) konsep CTL, 2) prosedur CTL, 3) filsafat dan teori belajar yang dianutnya.
4.      Simulasi merupakan bagian dari model pembelajaran yang sering digunakan dalam membentuk kemampuan siswa, coba saudara jelaskan 4 (empat) model simulasi dilihat dari karakteristiknya.
5.      Jelaskan minimal 3 model pembelajaran yang dapat digunakan dalam pembelajaran afektif, jelaskan karakteristiknya.
6.      Pembelajaran yang dapat membentuk kemampuan social dan kerjasama dapat menggunakan alternatif pembelajaran kooperatif. Jelaskan karakteristik model pembelajaran tersebut.


Jawaban No 1
Keterampilan dasar mengajar  (teaching skills) adalah kemampuan atau keterampilan yang bersifat khusus (most specific instructional behaviors) yang harus dimiliki oleh guru, dosen, instruktur atau widyaiswara agar dapat melaksanakan tugas mengajar secara efektif, efisien dan profesional (As. Gilcman,1991). Dengan demikian keterampilan dasar mengajar berkenaan dengan beberapa keterampilan atau kemampuan yang bersifat mendasar dan harus dikuasai oleh tenaga pengajar dalam melaksanakan tugas mengajarnya.
1.      Keterampilan Menjelaskan
Keterampilan menjelasakan adalah suatu keterampilan menyajikan bahan belajar yang diorganisasikan secara sistematis sebagai suatu kesatuan yang berarti, sehingga mudah dipahami para peserta didik.
2.    Keterampilan Bertanya
Bertanya merupakan suatu unsur yang selalu ada dalam proses komunikasi, termasuk dalam komunikasi pembelajaran. Keterampilan bertanya merupakan ucapan atau pertanyaan yang dilontarkan guru sebagai stimulus untuk memunculkan atau menumbuhkan jawaban(respon) dari peserta didik.
3.   Keterampilan Menggunakan Variasi Stimulus
Keterampilan menggunakan variasi stimulus merupakan keterampilan guru dalam menggunakan bermacam kemampuan dalam mengajar untuk memberikan rangsangan kepada siswa agar suasana pembelajaran selalu menarik, sehingga siswa bergairah dan antusias dalam menerima pembelajaran dan aktivitas belajar mengajar dapat  berlangsung secara efektif.
4.   Keterampilan Memberi Penguatan
Memberi penguatan atau reincorcement merupakan tindakan atau respon terhadap suatu bentuk perilaku yang dapat mendorong munculnya peningkatan kualitas tingkah laku tersebut di saat yang lain.
5.   Keterampilan Membuka dan Menutup Pelajaran
Keterampilan membuka pelajaran adalah usaha guru untuk mengkondisikan mental peserta didik agar siap dalam menerima pelajaran. Dalam membuka pelajaran  peserta didik harus mengetahui tujuan yang akan dicapai dan langkah-langkah yang akan ditempuh.
Keterampilan menutup pelajaran adalah keterampilan guru dalam mengakhiri kegitan inti pelajaran. Dalam menutup pelajaran, guru dapat menyimpulkan materi pelajaran, mengetahui tingkat pencapaian peserta didik dan tingkat keberhasilan guna dalam proses belajar mengajar.

6.   Keterampilan Mengajar Kelompok Kecil dan Perseorangan
Keterampilan mengajar kelompok kecil adalah kemampuan guru melayani kegiatan peserta didik dalam belajar secara kelompok dengan jumlah peserta didik berkisar antara 3 hingga 5 orang atau paling banyak 8 orang untuk setiap kelompoknya.
Sedangkan keterampilan dalam pengajaran perorangan atau pengajaran individual adalah kemampuan guru dalam mennetukan tujuan, bahan ajar, prosedur dan waktu yang digunakan dalam pengajaran dengan memperhatikan tuntutan-tuntutan atau perbedaan-perbedaan individual peserta didik.
7.   Keterampilan Mengelola Kelas
Keterampilan mengelola kelas merupakan kemampuan guru dalam mewujudkan dan mempertahankan suasana belajar mengajar yang optimal.
8.   Keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil
Diskusi kelompok kecil adalah suatu proses belajar yang dilakukan dalam kerja sama kelompok bertujuan memecahkan suatu permasalahan, mengkaji konsep, prinsip atau kelompok tertentu. Untuk itu guru memiliki peran sangat penting sebagai pembimbing agar proses diskusi dapat berlangsung sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Jawaban No 2

1. PAKEM
A. Konsep PAKEM

PAKEM adalah singkatan dari Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Aktif dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan. Belajar memang merupakan suatu proses aktif dari si pembelajar dalam membangun pengetahuannya, bukan proses pasif yang hanya menerima kucuran ceramah guru tentang pengetahuan. Sehingga, jika pembelajaran tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk berperan aktif, maka pembelajaran tersebut bertentangan dengan hakikat belajar. Peran aktif dari siswa sangat penting dalam rangka pembentukan generasi yang kreatif, yang mampu menghasilkan sesuatu untuk kepentingan dirinya dan orang lain. Kreatif juga dimaksudkan agar guru menciptakan kegiatan belajar yang beragam sehingga memenuhi berbagai tingkat kemampuan siswa dan penekanan kepada belajar sambil bekerja, sementara guru menggunakan berbagai sumber dan alat bantu belajar termasuk pemanfaatan lingkungan supaya pembelajaran lebih menarik, menyenangkan dan efektif.

B. Karakteristik PAKEM
Dalam setiap model pembelajaran tentunya ada yang menjadi karakter dari model pembelajaran tersebut. Berikut ini adalah karakteristik dari model PAKEM, yaitu:
Aktif, maksudnya model pembelajaran ini menuntut peserta didik untuk aktif dengan lingkungan sekolah dengan melibatkan diri dalam berbagai sesi pembelajaran.
Kreatif, maksudnya pembelajarannya membangun kreativitas peserta didik dalam berinteraksi dengan lingkungan, bahan ajar, dan sesama peserta didik, utamanya dalam menghadapi tantangan atau tugas-tugas yang harus diselesaikan dalam pembelajaran.
Efektif, maksudnya setelah peserta didik mampu untuk aktif, kreatif diharapkan proses pembelajaran menjadi efektif sehingga tujuan pembelajaran bisa tercapai dengan mudah.
Menyenangkan, maksudnya, pembelajaran PAKEM dirancang dapat menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan. Dengan suasana pembelajaran yang menyenangkan diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik.
Dalam kaitan ini, Rose and Nicholl (2003) mengatakan bahwa pembelajaran yang menyenangkan memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
Berusaha menciptakan lingkungan tanpa stress.
Menjamin bahwa bahan ajar itu relevan. Anda ingin belajar ketika Anda melihat manfaat dan pentingnya bahan ajar.
Menjamin bahwa belajar secara emosional adalah positif, yang pada umumnya hal itu terjadi ketika belajar dilakukan bersama dengan orang lain, ketika ada humor dan dorongan semangat , waktu rehat dan jeda teratur, serta dukungan antusias.
Melibatkan secara sadar semua indera dan juga pikiran otak kiri dan otak kanan.
Menantang peserta didik untuk dapat berpikir jauh ke depan dan mengekspresikan apa yang sedang dipelajari dengan sebanyak mungkin kecerdasan yang relevan untuk memahami bahan ajar.
Mengkonsolidasikan bahan yang sudah dipelajari dengan meninjau ulang dalam periode-periode yang relaks.
Agar pembelajaran dapat menyenangkan dan efektif perlu melibatkan pembelajaran multi-indera, yaitu:
Dengan membaca dan memvisualisasikan bahan ajar berati kita telah melihatnya  Visual .
Dengan memberi fakta kunci keras-keras, mengajukan pertanyaan, dan menjawabnya berarti Anda telah mendengarnya Auditorial
Dengan menuliskan pokok masalah pada kartu dan menyusunnya dalam urutan logis berarti Anda telah melakukannya Kinestetik/Fisik.
Dalam PAKEM juga sebaiknya kita menggunakan SAVI, yaitu:
Somatis, yaitu belajar sambil berbuat dan bergerak.
Auditori, yaitu belajar dengan berbicara dan mendengarkan.
Visual, yaitu belajar dengan mengamati dan menggambarkan
Intelektual, yaitu belajar dengan memecahkan masalah dan merenung.

C. Filsafat PAKEM
Yang melandasi Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAKEM) antara lain filsafat Konstruktivisme yang menekankan agar peserta didik mampu mengintegrasikan gagasan baru dengan gagasan atau pengalaman awal yang telah dimiliki peserta didik. Harapannya mereka mampu membangun makna bagi fenomena yang berbeda. Di samping itu, juga filsafat Pragmatisme yang menekankan agar dalam pembelajaran peserta didik sebagai subyek yang aktif, sementara guru sebagai fasilitator (Lihar Ornstein & Levine, 1985).
Sekurang-kurangnya dua filsafat pendidikan tersebut yang melandasi pembelajaran model PAKEM. Tujuannya dengan pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan daya serap peserta didik terhadap bahan ajar meningkat sehingga berdampak pada peningkatan hasil belajar.

2. Koperatif (Cooperative Learning)

A. Konsep Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif adalah pendekatan pembelajaran yang berfokus pada penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar.
Pembelajaran kooperatif menciptakan interaksi yang asah, asih dan asuh, sehingga tercipta masyarakat belajar. Siswa tidak hanya belajar dari guru tetapi juga dari sesama siswa.


B. Karakteristik

Pembelajaran kooperatif memiliki ciri atau karakteristik diantaranya :

Pembelajaran kooperatif adalah suatu sistem yang di dalamnya terdapat elemen-elemen yang saling berhubungan. Elemen-elemen yang sekaligus merupakan karakteristik pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut: saling ketergantungan positif, interaksi tatap muka, akuntabilitas individual, dan keterampilan hubungan antar pribadi (Nurhadi dan Senduk, 2003: 60). Berikut penjelasan untuk masing-masing elemen.
1. Saling Ketergantungan Positif
Saling ketergantungan positif adalah hubungan yang saling membutuhkan. Saling ketergantungan positif menuntut adanya interaksi promotif yang memungkinkan sesama siswa saling memberikan motivasi untuk meraih hasil yang optimal, yang dicapai melalui: a. saling ketergantungan pencapaian tujuan, b. saling ketergantungan dalam menyelesaikan tugas, c. saling ketergantungan bahan atau sumber belajar, d. saling ketergantungan peran, dan saling ketergantungan hadiah.
2. Interaksi Tatap Muka
Interaksi tatap muka terwujud dengan adanya dialog yang dilakukan bukan hanya antara siswa dengan guru tetapi juga antara siswa dengan siswa. Interaksi semacam itu memungkinkan para siswa dapat saling menjadi sumber belajar. Fakta seperti itu dibutuhkan karena ada siswa yang merasa lebih mudah belajar dari sesama siswa.
3. Akuntabilitas Individual
Pembelajaran kooperatif terwujud dalam bentuk belajar kelompok. Meskipun demikian penilaian tertuju pada penguasaan materi belajar secara individual. Hasil penilaian pada kemampuan individual tersebut selanjutnya disampaikan guru kepada kelompok agar semua anggota kelompok mengetahui siapa diantara mereka yang memerlukan bantuan dan yang dapat memberikan bantuan.
4. Keterampilan Menjalin Hubungan antar Pribadi
Dalam pembelajaran kooperatif keterampilan menjalin hubungan antar pribadi (interpersonal relationship) dikembangkan. Pengembangan kemampuan tersebut dilakukan dengan melatih siswa untuk bersikap tenggang rasa, sopan, mengkritik ide bukan pribadi, tidak mendominasi pembicaraan, menghargai pendapat orang lain, dst.
C. Filsafat

Pembelajaran kooperatif didasarkan teori konstruktivistik, bahwa siswa dapat menemukan dan memahami konsep-konsep yang dipelajari dengan cara mongkonsrruksi pengalamannya. Usaha untuk mengkonsrruksi pengalaman akan lebih mudah dilakukan jika mereka melakukannya dengan bekerja sama. Menurut Arends (2008: 37), akar intelektual pembelajaran kooperatif berasal dari tradisi pendidikan yang menekankan pemikiran dan praktis demokratis: belajar secara aktif, perilaku kooperatif, dan menghormati pluralisme di masyarakat yang multikultural.

Jawaban No 3

a) Konsep CTL
Pembelajaran Kontekstual adalah konsep pembelajaran yang mendorong guru untuk menghubungkan antara materi yang diajarkan dan situasi dunia nyata siswa. Dan juga mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Ada tiga hal yang harus dipahami. Pertama CTL menekankan kepada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi, kedua CTL mendorong agar siswa dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata, ketiga mendorong siswa untuk dapat menerapkan dalam kehidupan.
b) Prosedur CTL
- Pengaktifan pengetahuan yang sudah ada
- Pemerolehan pengetahuan yang sudah ada (dengan cara mempelajari mempelajari secara keseluruhan)
- Pemahan pengetahuan
- Mempraktikan pengetahuan dan pengalaman yang telah di dapat.
- Melakukan refleksi.
c) Filsafat dan teori yang di anut
            Contextual Teaching and Learning (CTL) menganut teori konstriktivisme. Teori Konstruktivisme didefinisikan sebagai pembelajaran yang bersifat generatif, yaitu tindakan mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari. Konstruktivisme sebenarnya bukan merupakan gagasan yang baru, apa yang dilalui dalam kehidupan kita selama ini merupakan himpunan dan pembinaan pengalaman demi pengalaman. Ini menyebabkan seseorang mempunyai pengetahuan dan menjadi lebih dinamis.

Jawaban No 4
a. Simulasi Game.
 Simulasi game merupakan bermain peranan, para siswa berkompetisi untuk mencapai tujuan tertentu melalui permainan dengan mematuhi peraturan yang ditentukan.
b. Pear teaching / tutor sebaya
Pengajaran sebaya adalah sistem pengajaran yang dilakukan siswa satu sama lain dengansaling membantu dalam belajar dan mengajar. Pengajaran sebaya dapat dilakukan dengan berbagai bentuk seperti satu orang satu tutor (siswa yang lebih berpengalaman), presentasi siswa dalam seminar atau pembelajaran di kelas.
c. Bermain peran (role playing)
Permainan peran merupakan sebuah cara yang menempatkan para peserta pelatihan dengan anggapan berada pada posisi indentitas berbeda dengan kondisi sebenarnya, para peserta didik mencoba mengeksplorasi hubungan antar manusia dengan cara memperagakannya dan mendiskusikannya sehingga secara bersama-sama para peserta didik dapat mengeksplorasi perasaan, sikap, nilai, daan berbagai strategi pemecahan masalah
             d. Sosiodrama
Sosiodrama adalah salah satu strategi multiple intelligences yang sangat efektif memasukkan informasi materi belajar ke dalam memori jangka panjang siswa dan Sosiodrama dimaksudkan untuk kegiatan  mengajar dengan jalan mendramatisasikan bentuk tingkah laku dalam hubungan sosial



Jawaban No 5
Ada beberapa model pemebelajaran afektif, diantaranya :
· Model Konsiderasi
Manusia seringkali bersifat egoistis, lebih memperhatikan, mementingkan, dan sibuk dan sibuk mengurusi dirinya sendiri. Melalui penggunaan model konsiderasi (consideration model) siswa didorong untuk lebih peduli, lebih memperhatikan orang lain, sehingga mereka dapat bergaul, bekerja sama, dan hidup secara harmonis dengan orang lain.
Langkah-langkah pembelajaran konsiderasi:
1.         menghadapkan siswa pada situasi yang mengandung konsiderasi
2.         meminta siswa menganalisis situasi untuk menemukan isyarat-isyarat yang tersembunyi berkenaan dengan perasaan, kebutuhan dan kepentingan orang lain
3.         siswa menuliskan responsnya masing-masing
4.         siswa menganalisis respons siswa lain
5.         mengajak siswa melihat konsekuesi dari tiap tindakannya
6.         meminta siswa untuk menentukan pilihannya sendiri
·      Model pembentukan rasional
Dalam kehidupannya, orang berpegang pada nilai-nilai sebagai standar bagi segala aktivitasnya. Nilai-nilai ini ada yang tersembunyi, dan ada pula yang dapat dinyatakan secara eksplisit. Nilai juga bersifat multidimensional, ada yang relatif dan ada yang absolut. Model pembentukan rasional (rational building model) bertujuan mengembangkan kematangan pemikiran tentang nilai-nilai.
Langkah-langkah pembelajaran rasional:
1.    menigidentifikasi situasi dimana ada ketidakserasian atu penyimpangan tindakan
2.    menghimpun informasi tambahan
3.    menganalisis situasi dengan berpegang pada norma, prinsip atu ketentuan-ketentuan yang berlaku dalam masyarakat
4.    mencari alternatif tindakan dengan memikirkan akibat-akibatnya, mengambil keputusan dengan berpegang pada prinsip atau ketentuen-ketentuan legal dalam masyarakat.
·      Model nondirektif
Para siswa memiliki potensi dan kemampuan untuk berkembang sendiri. Perkembangan pribadi yang utuh berlangsung dalam suasana permisif dan kondusif. Guru hendaknya menghargai potensi dan kemampuan siswa dan berperan sebagai fasilitator/konselor dalam pengembangan kepribadian siswa. Penggunaan model ini bertujuan membantu siswa mengaktualisasikan dirinya.
Langkah-langkah pembelajaran nondirekif:
1.  menciptakan sesuatu yang permisif melalui ekspresi bebas,
2.  pengungkapan siswa mengemukakan perasaan, pemikiran dan masalah-masalah yang dihadapinya,guru menerima dan memberikan klarifikasi,
3.  pengembangan pemahaman (insight), siswa mendiskusikan masalah, guru memberrikan dorongan,
4.  perencanaan dan penentuan keputusan, siswa merencanakan dan menentukan keputusan, guru memberikan klarifikasi,
5.  integrasi, siswa memperoleh pemahaman lebih luas dan mengembangkan kegiatan-kegiatan positif. Satuan pendidikan harus merancang kegiatan pembelajaran yang tepat agar tujuan pembelajaran afektif dapat dicapai. Keberhasilan pendidik melaksanakan pembelajaran ranah afektif dan keberhasilan peserta didik mencapai kompetensi afektif perlu dinilai.

Jawaban No 6

Pembelajaran kooperatif adalah suatu sistem yang di dalamnya terdapat elemen-elemen yang saling berhubungan. Elemen-elemen yang sekaligus merupakan karakteristik pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut: saling ketergantungan positif, interaksi tatap muka, akuntabilitas individual, dan keterampilan hubungan antar pribadi (Nurhadi dan Senduk, 2003: 60). Berikut penjelasan untuk masing-masing elemen.
1. Saling Ketergantungan Positif
Saling ketergantungan positif adalah hubungan yang saling membutuhkan. Saling ketergantungan positif menuntut adanya interaksi promotif yang memungkinkan sesama siswa saling memberikan motivasi untuk meraih hasil yang optimal, yang dicapai melalui: a. saling ketergantungan pencapaian tujuan, b. saling ketergantungan dalam menyelesaikan tugas, c. saling ketergantungan bahan atau sumber belajar, d. saling ketergantungan peran, dan saling ketergantungan hadiah.
2. Interaksi Tatap Muka
Interaksi tatap muka terwujud dengan adanya dialog yang dilakukan bukan hanya antara siswa dengan guru tetapi juga antara siswa dengan siswa. Interaksi semacam itu memungkinkan para siswa dapat saling menjadi sumber belajar. Fakta seperti itu dibutuhkan karena ada siswa yang merasa lebih mudah belajar dari sesama siswa.
3. Akuntabilitas Individual
Pembelajaran kooperatif terwujud dalam bentuk belajar kelompok. Meskipun demikian penilaian tertuju pada penguasaan materi belajar secara individual. Hasil penilaian pada kemampuan individual tersebut selanjutnya disampaikan guru kepada kelompok agar semua anggota kelompok mengetahui siapa diantara mereka yang memerlukan bantuan dan yang dapat memberikan bantuan.
4. Keterampilan Menjalin Hubungan antar Pribadi
Dalam pembelajaran kooperatif keterampilan menjalin hubungan antar pribadi (interpersonal relationship) dikembangkan. Pengembangan kemampuan tersebut dilakukan dengan melatih siswa untuk bersikap tenggang rasa, sopan, mengkritik ide bukan pribadi, tidak mendominasi pembicaraan, menghargai pendapat orang lain, dst.

Rabu, 08 Februari 2012

TEKNOLOGI PENDIDIKAN Menjawab Kemajuan Pendidikan


 
MASLAH PENDIDIKAN
Pendidikan yang sedang berlangsung di negara indonesia ini terasa seperti abnormal      karena adanya berbagai masalah yang makin hari bukannya malah terselesaikan tapi malah bertambah kompleks, seperti sebuah penyakit yang jika tidak ada penangan maka penyakit itu malah akan menjalar ke organ lainnya, itulah yang terjadi di dunia pendidikan kita sekarang.
Pendidikan yang tidak berhasil di karenakan adanya beberapa faktor yang di anggap sederhana tapi malah menjadi sesuatu yang sangat berpengaruh dalam proses pendidikan yang sedang berlangsung.
Faktor-faktor yang menghambat proses pendidikan di indonesia sampai sekarang masih belum bisa di atasi secara maksimal baik oleh pemerintah maupun oleh pihak yang berkompeten di bidang pendidikan.
Di antara faktor tersebut adalah kurangnya kepedulian masarakat sekitar terhadap dunia pendidikan, yang padahal perannya dalam dunia pendidikan sangatlah besar. Jika masarakat dari semua golongan mendukung ikut berpartisipasi dalam  proses pendidikan yang berlangsung, faktor ini juga yang menghambat banyaknya anak bangsa yang masih belum bisa menikmati dunia pendidikan, bahkan sampai usia-usia berkompetitif di dunia usaha yang seharusnya sudah bisa mendapatkan pendidikan yang digunakan dalam dunia usaha .
Terlalau rumitnya permaslahan di dunia pendidikan yang terjadi saat ini mestinya bukan menjadi tanggung  jawab seorang  atau satu golongan tertantu tapi itu merupakan permaslahan makro yang penyelesaiannya haruslah tertangani bersama,  yaitu dengan adanya peran serta dari masyarakat, pemerintah, dan pihak yang berwenang di bidangnya yaitu dunia pendidikan agar masalah dalam dunia pendidikan dapat tertangani dengan segera.

Kompleksnya maslah pendidikan  yang terlepas dari carut marut  pelaksanaan yang ada dalam sistem pendidikan kita, karena sistem pendidikan yang telah di terapkan dalam dunia pendidikan kita saat ini  adalah sistem yang harus banyak di refisi, karena banyak hal-hal yang baru yang terbukti dalam dunia pendidikan keberhasilannya, contohnya : Siswa  kini lebih bermanfaat bila di arahkan dalam proses pengembangan karakter masing- masing yang dimiliki siswa  yang bisa di lebih efektif dalam proses perkembangan sisiwa.
Masalah lain dari dunia pendidikan  adalah faktor ketidakmampuan biaya, faktor ini merupakan faktor yang palaing kontras dalam maslah pendidikan yang terjadi karena dengan ketidakmampuan biaya,  ribuan anak bangsa tidak bisa menempuh pendidikan yang seharusnya, faktor ini pula yang mengubah anak bangsa yang memiliki semangat luar biasa dalam hidupnya menjadi meredup karena apa yang ia bayankan tentang mendapatkan pendidikan terasa sia-sia belaka, karana ada angapan bahwa pendidikan hannya milik orang yang berkecukupan dalam hal ekonomi, faktor ini juga yang mengakibatkan orang tua  untuk tidak mewajibkan anak-anaknya untuk mendapat pendidikan  yang  padahal dalam diri anak tersebut terdapat sebuah keingianan yang besar untuk bisa mendapat pendidikan yang seharusnya ia dapatkan.
Dalam permasalahan pendidikan juga terdapat masalah yang sama sulitnya dari masalah –masalah yang ada di antaranya yaitu lingkungan masarakat, dalam hal ini lingkungan sangat beperan besar dalam proses pandidikan yang terjadi di lingkungan tersebut, karena lingkungan juga mencetak atau membentuk watak atau sifat dari para pelaku pendidikan yang ada di dalamnya, contohnya : di daerah “kumuh” seperti di daerah TPA (tempat pembuangan akhir) seperti Bantar gebang yang mayoritas masarakatnya bekerja sebagai pemulung, menganggap bahwa pendidikan bukan lah sesuatu yang berguna bagi mereka sehinga bannyak dari mereka tidak pernah merasakan dunia pendidikan.
Dengan begitu pendidikan yang sekarang kita dapatkan merupakan suatu keluarbiasaan yang harus kita syukuri , karana banyak dari anak-anak yang masih belim bisa mendapatkan apa yang kita dapat sekarang.

Tekpend sebagaai salah satu solusinya?
Dari berbagai masalalh pendidikan yang sangat kompleks saat ini, timbul suatu pertanyaan untuk mamberikan jawaban yang bisa di percaya hasilnya.
Dalam dunia pendidikan telah lama hadir sebuah jurusan teknologi pendidikan yang sangat berkaitan erat dengan dunia pendidikan, dari situlah mulai timbul pertanyaan-pertanyaan tentang jurusan teknologi pendidikan yang berkaitan dengan masalah pendidikan sekarang,  diantaranya  “Apakah tekpend bisa menjadi salah satu solusi pemecahan dari  masalah pendidikan saat ini ?”.
Pertanyaan tersebut mungkin mewakili banyak aspirasi dari masarakat tentang jalan keluar permasalahan dari dunia pendidikan sekarang.
Di harapkan dengan adanya jurusan teknologi pendidikan ini memberi suatu hal yang baru dalam dunia pendidikan yang di harapkan menjadi suatu perubahan dalam dunia pendidikan saat ini,  nampaknya mulai memberi sedikit demi sedikit kontribusinya terhadap dunia pendidikan di indonesia,  karena teknologi pendidikan di dalamnya merancang para ahli pendidikan untuk  bisa merubah sisitem pendidikan yang berlaku sekarang, telah di sebutkan di awal pembahasan masalah di atas bahwa dapat di pastikan semua masalah pendidikan yang begitu kompleksnya tidak mungkin di tangani dalan waktu yang singkat dan secara bersamaan teteapi harus dengan cara bertahap agar mendapatkan hasil yang efektif nantinya .
Di teknologi pendidikan lebih mengedepankan pendekatn moral para pengajar terhadap peserta didiknya,  itu salah satu penanganaan masalah krisis moral para pengajar yang saat ini menjadi suatu masalah yang tidak kalah pentingnya dalam dunia pendidikan saat ini, karena moral merupakan pondasi dari setiap proses pembelajaran yang berlasung.                           
 jika moral para pengajarnya sudah bisa mencerminkan sosok seorang pangajar yang membawa rasa nyaman dan memberikan kesan baik sehingga para peserta didikpun akan meamberikan respon positf terhadap apa yang pengajar berikan, sehinga dengan  secara tidak langsung pengajar telah ikut mengurangi masalah pendidikan yang berkaitan dengan masalah prilaku pengajar dan peserta didik yang biasanya menjadi awal kerusakan moral peserta didik  yang nantinya akan memberikan permasalahan pendidikan yang lebih rumit, namun jika pengajar dan peserta didiknya bisa berkomunikasi dengan baik, maka akan tercipta rasa saling menghargai antara pendidik dengan peserta didiknya yang akan mengubah pendidikan secara berkalah.
Kemudian teknologi pendidikan juga memberikan penanganan masalah pengunaan media pembelajaran yang sesuai dangan tahapan pendidikan yang ada untuk bisa memberikan kemudahan pemahaman pada peserta didik. Pemberian penanganan media pembelajaran di maksudkan untuk bisa membantu para anak usia pendidikan yang tidak bisa menikmati atau merasakan dunia pendidikan formal bisa menempuh pendidikan nonformal yang bisa membantu mengurangi masalah pendidikan khususnya dari masalah perekonomian,                             
di mana para peserta didik yang kurang mampu bisa mengikutu pendidikan non formal atau pendidikan luar sekolah yang biasanya memberikan pendidikan secara sukarela pada peserta didiknya.
Teknologi pendidikan juga meberikan salah satu jalan atau pemecahan masalah dengan adanya prodi guru TIK yang dalm pendalaman kurirkulumnya memberikan cara-cara penanganan pengunaan teknologi dalm proses daya dukung pendidikan  yang bisa mengatasi masalah jarak antara pendidik dengan peserta didik contohnya dengan adanya e-learnig, dengan penggunaan teknologi ini para reserta didik tidak akan menemui penghalangseperti jarak dan waktu karena dengan e-learnig kita sudah bisa belajar secara jarak jauh, yang nantinya diharapkan apa yang  didiapat bisa memberiken manfaat yang bias mulai di terapkan di masarakat sebagai suatu proses penanganan masalah pendidikan.
 Dan ada satu lagi dari teknologi pendidikan yang menjadi suatu penanganan masalah pendidikan khususnya dalam bidang sistem pendidikan yaga perlu banyak di refisi,yaitu dengan adanya perekayasa pendidikan yang bisa memberi suatu sisitem pendidikan yang baru bagi pendidikan indonesia agar pendidikan indonesia tidak berjalan monoton, sehingga para pendidik tidak terfokus oleh satu sisitem yang itu-itu saja.
Jadi dengan demikian jawaban dari berbagaai pertannyan yang muncul mengenai tekpend sebagai jalan keluar masalah pendidikan sekarang adalah tinggal bagai mana para ahli pendidikan dari teknologi pendidikan bisa menempatkan disiplin ilmu yang ada di jurusan tenologi pendidikan ke lingkungan masarakat sekarang yang membutuhkan pemecahan pendidikan yang bersifat kongkret bagi kehidupan masarakat yang ada sekarang.